Pengusaha Kecil Merasa Dihinakan, Dugaan Arogansi Kanit Security dan Sales Stamford Raffles Tuai Sorotan

Suaranetizen.net.CIBUBUR – Sejumlah pelaku usaha kecil menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap perlakuan yang mereka terima saat berusaha mencari nafkah di kawasan Stamford Raffles Cibubur. Mereka mengaku bukan hanya kehilangan kesempatan usaha pada momen kegiatan tahunan yang selama ini menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga merasa tidak dihargai sebagai bagian dari masyarakat yang menggantungkan hidup dari usaha kecil.
Persoalan bermula ketika sejumlah pengusaha kecil mengajukan proposal atau surat permohonan kerja sama kepada pihak pengelola. Namun hingga waktu yang cukup lama, para pemohon mengaku tidak pernah menerima jawaban ataupun kepastian terkait diterima atau ditolaknya permohonan tersebut.

"Kami hanya ingin mendapat kepastian. Kalau memang ditolak, sampaikan ditolak. Kalau diterima, sampaikan diterima. Jangan dibiarkan tanpa jawaban sama sekali," ungkap salah seorang pelaku usaha kepada awak media.

Kekecewaan semakin memuncak ketika pengusaha kecil yang biasanya usaha menjual jasa saat kegiatan tahunan di area tersebut mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Mereka menyebut sejumlah petugas keamanan mendatangi lokasi dan meminta mereka meninggalkan area dengan alasan atas instruksi pimpinan keamanan yang akrab disapa Manan.

Tidak hanya itu, pengusaha kecil juga mengaku kecewa terhadap sikap salah satu staf marketing bernama Siska yang disebut menerima proposal mereka namun dinilai tidak memberikan informasi ataupun kejelasan terkait tindak lanjut pengajuan tersebut.

"Kami ini hanya rakyat kecil yang mencari rezeki untuk anak dan istri. Jangan sampai keberadaan kami dianggap tidak penting. Yang kami minta hanya komunikasi dan kepastian," ujar salah seorang pengusaha kecil dengan nada kecewa.

Menurut keterangan yang dihimpun, selama bertahun-tahun para pelaku usaha kecil tersebut biasa usaha mencari rejeki ketika terdapat kegiatan atau acara tertentu di kawasan Stamford tanpa menimbulkan gangguan berarti. Namun belakangan mereka mengaku menghadapi penolakan yang dinilai lebih keras dibandingkan sebelumnya.

Beberapa pengusaha kecil bahkan mengaku merasa terintimidasi akibat cara penyampaian yang dilakukan saat meminta mereka meninggalkan lokasi. Kondisi itu menimbulkan pertanyaan mengenai pola komunikasi dan pendekatan yang diterapkan terhadap masyarakat kecil yang hanya berupaya mencari penghasilan secara halal.

Sorotan juga datang dari sejumlah petugas keamanan yang enggan disebutkan identitasnya. Mereka mengaku lebih nyaman dengan pola kepemimpinan sebelumnya yang dinilai mengedepankan musyawarah, komunikasi, dan pendekatan persuasif kepada masyarakat.

"Kalau dulu biasanya dibicarakan dengan baik-baik. Sekarang banyak yang merasa tidak nyaman karena kesannya terlalu keras," ujar salah seorang sumber.

Pengamat sosial menilai bahwa penegakan aturan memang merupakan hak pengelola kawasan. Namun pendekatan yang mengabaikan komunikasi dan aspek kemanusiaan berpotensi menimbulkan konflik sosial serta memperburuk hubungan antara manajemen kawasan dan masyarakat sekitar.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, perlakuan terhadap pelaku usaha mikro menjadi perhatian publik. Banyak pihak berharap manajemen Stamford Raffles Cibubur melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan, komunikasi, dan kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat kecil.

Para pengusaha kecil juga meminta pimpinan atau owner Stamford Raffles Cibubur turun tangan untuk melihat langsung persoalan yang terjadi agar tercipta solusi yang adil tanpa mengorbankan hak masyarakat kecil dalam mencari nafkah. 

(Tim Investigasi)